SwaraBogor.com | Bogor – Oleh: Dr. Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Kado Keluarga Bahagia
Setiap tahun, 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Bendera dikibarkan, twibbon disebarluaskan, sarung dan peci dikenakan, pesantren dikenang, dan jasa para santri dalam perjuangan bangsa kembali digaungkan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan yang patut direnungkan: sudahkah ilmu yang kita pelajari sebagai santri telah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik? Manusia yang bermanfaat?
Pertanyaan ini penting, sebab Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Lembaga pendidikan terus melahirkan lulusan, gelar akademik semakin beragam, dan teknologi menyediakan akses pengetahuan yang nyaris tanpa batas. Namun, kepintaran saja tidak cukup. Tak banyak manfaat. Kita membutuhkan manusia yang bukan hanya pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi juga berani menjalaninya, dan menjadi teladan.
Pintar adalah kemampuan, sedangkan benar adalah komitmen moral. Kepintaran membantu seseorang menemukan jalan, tetapi integritas menentukan apakah jalan itu layak ditempuh. Tanpa kejujuran, kecerdasan bisa menjadi alat manipulasi. Tanpa amanah, jabatan bisa berubah menjadi kesempatan untuk menguntungkan diri sendiri. Tanpa akhlak, ilmu berisiko kehilangan kemanfaatannya. Bahkan, menjadi beban dan musibah.
Di sinilah persoalan keteladanan menjadi penting. Kita sering menjumpai kesenjangan antara nasihat dan tindakan: kejujuran dikampanyekan, tetapi kecurangan ditoleransi; kedisiplinan dituntut, tetapi tanggung jawab diabaikan; keadilan disuarakan, tetapi egois pada diri sendiri dibenarkan. Tentu, ini bukan gambaran semua orang. Namun, setiap ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan layak menjadi bahan introspeksi bersama. Di hari santri ini.
Allah Swt. mengingatkan dalam QS. As-Saff ayat 2–3 agar orang beriman tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya. Peringatan ini menegaskan bahwa kebenaran bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala atau kata-kata yang indah di bibir. Kebenaran harus menjelma menjadi perilaku sehari-hari.
Rasulullah pun menjadi teladan utama sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi memperlihatkan bagaimana ajaran itu dihidupkan dalam keseharian. Dari sini kita belajar bahwa pendidikan paling kuat bukan semata-mata nasihat, melainkan keteladanan.
Hari Santri semestinya menjadi momentum menghidupkan kembali hubungan antara ilmu dan adab. Tradisi pesantren mengajarkan kesungguhan belajar, penghormatan kepada guru, kesederhanaan, kedisiplinan, dan pengabdian. Namun, menghormati guru bukan berarti mengultuskannya. Adab harus berjalan bersama keberanian berpikir kritis, kejujuran, dan kesediaan memperbaiki kekeliruan.
Tanggung jawab membangun karakter tentu tidak hanya berada di pundak pesantren. Keluarga adalah sekolah pertama tempat anak menyaksikan kejujuran dipraktikkan. Sekolah menjadi ruang untuk menumbuhkan disiplin, keadilan, dan tanggung jawab. Para pemimpin di semua level dan pejabat pun dituntut menunjukkan bahwa kekuasaan merupakan amanah, bukan keistimewaan untuk menempatkan diri di atas aturan. Apalagi, menghalalkan segala cara.
Lantas, dari mana perubahan harus dimulai? Dari diri sendiri. Berani jujur meskipun tidak diawasi, menepati janji meskipun tidak menguntungkan, mengakui kesalahan meskipun meruntuhkan gengsi, dan memperlakukan orang lain secara adil meskipun berbeda kepentingan. Kebaikan yang konsisten sering kali lebih mendidik daripada seribu nasihat yang tidak pernah dipraktikkan.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa kita ini benar-benar kekurangan orang jujur. Banyak orang bekerja dengan tulus, menjaga amanah, dan berbuat baik tanpa sorotan. Di mana pun posisinya. Justru, mereka perlu menjadi teladan yang dihargai, agar integritas tidak kalah oleh popularitas dan pencitraan lewat jabatan.
Pada akhirnya, keberhasilan Hari Santri tidak cukup diukur dari semarak peringatannya, tetapi juga dari nilai-nilai yang terus hidup setelah perayaan usai. Sebab, bangsa ini bukan hanya membutuhkan orang yang cerdas menjawab persoalan, melainkan juga manusia yang teguh menjaga kebenaran ketika tidak seorang pun melihat.
Ilmu membuat kita mengetahui kebenaran. Akhlak mendorong kita mengamalkannya. Dan keteladanan membuat kebenaran itu hidup dalam diri orang lain. Itulah warisan berharga yang seharusnya kita rawat dari semangat Hari Santri demi masa depan Indonesia. Wallahu a’lam bis shawab.







Tinggalkan Balasan