Scroll untuk baca artikel
Advertisement
Advertisement
Breaking News
18:03
Advertisement

Orasi Wamenkes di Dies Natalis ke-73 UKI: Kampus Bersejarah dan Penyumbang Dokter Spesialis

IMG 20261016 WA0089
Bagikan
Lihat Tersimpan

Beritaliputan.id || Jakarta – Universitas Kristen Indonesia (UKI) menggelar Sidang Terbuka Senat dalam rangka merayakan Dies Natalis ke-73 bertajuk “From Legacy To Global Impact” di Auditorium Grha William Soeryadjaya, Jakarta Timur, Kamis, 15 Oktober 2026.

Dalam perhelatan tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), FISR, hadir menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Dari Warisan Nilai dan Pengabdian Menuju Dampak Global”.

Di hadapan rektorat, yayasan, dosen, dan ratusan mahasiswa, Benjamin yang juga alumnus UKI menegaskan posisi historis UKI sebagai salah satu pilar pendidikan tinggi nasional.

“UKI adalah perguruan tinggi ketujuh yang lahir di Indonesia pada 1953, setelah UI, ITB, UII, UGM, dan USU. Dari ribuan kampus di Indonesia saat ini, UKI berdiri di atas sejarah panjang yang patut dibanggakan,” ujar Benjamin.

Menurutnya, sejarah panjang tersebut membuat pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk terus mendukung keberlanjutan dan kualitas pendidikan di UKI.

Kontribusi Besar di Bidang Kedokteran

Di luar rekam jejak sejarahnya, Benjamin menggarisbawahi kontribusi nyata UKI dalam pembangunan kesehatan nasional, khususnya melalui Fakultas Kedokteran.

Ia mencatat bahwa di luar perguruan tinggi negeri, Fakultas Kedokteran UKI merupakan salah satu penyumbang dokter spesialis terbesar di Indonesia.

“Alumni UKI memiliki pengaruh signifikan di dunia medis. FK UKI membuktikan diri mampu mencetak tenaga medis berkualitas yang tersebar di seluruh pelosok tanah air,” tuturnya.

Atas nama Kementerian Kesehatan, Benjamin juga menyampaikan apresiasi atas konsistensi UKI menapaki usia ke-73 tahun-sebuah perjalanan panjang yang dibangun di atas komitmen dan perjuangan lintas generasi.

Integritas, Etika, dan Tanggung Jawab Moral

Kendati memiliki sejarah besar, Benjamin mengingatkan bahwa reputasi masa lalu tidak otomatis menjamin keberhasilan di masa depan jika tidak diimbangi dengan adaptasi dan peningkatan mutu.

“Setiap institusi besar memiliki sejarah, tetapi tidak semua mampu menjadikannya sebagai kekuatan untuk menghadapi masa depan. Di sinilah profesionalisme menjadi krusial,” tegasnya.

Ia pun menyoroti pentingnya nilai-nilai dasar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di era modern: Ilmu Pengetahuan: Tanpa integritas, ilmu pengetahuan akan kehilangan arah.

Teknologi: Tanpa etika, pemanfaatan teknologi justru memicu persoalan baru. Kecerdasan: Tanpa empati, kepandaian hanya akan menjauhkan manusia dari sesamanya.

Mengakhiri orasinya, Benjamin berpesan agar segenap civitas akademika dan jajaran pengajar terus memelihara standar akademik serta mencetak lulusan berkarakter mulia.

“UKI bukan perguruan tinggi sembarangan. Saya berharap para dosen bangga mendidik mahasiswa agar kita dapat membuktikan kembali kejayaan UKI melalui alumni-alumni yang berintegritas dan berkarakter,” pungkasnya. (**)

Penulis

Redaksi

Jendela Informasi Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *